Pengamanan Tri Hari Suci Dalam Wajah NTT Penuh Kasih di TTU

Komunikasi dengan tokoh agama dalam rangkaian pengaman Tri Hari Suci menjadi langkah strategis menjaga kondusivitas wilayah, sekaligus menghidupkan semangat “NTT Penuh Kasih” yang diusung Irjen. Pol. Dr. Rudi Darmoko.

Pengamanan Tri Hari Suci Dalam Wajah NTT Penuh Kasih di TTU
Kapolres TTU, AKBP Eliana Papote, S.I.K., M.M., saat menyambangi Gereja Paroki St. Yohanes Pemandi Naileu Kefamenanu (Rabu, 1/4/26) Dok Humas.

Tribratanewttu.com; KEFAMENANU (2/4/2026) - Menjelang Tri Hari Suci umat Kristiani, Kapolres Timor Tengah Utara (TTU) AKBP Eliana Papote memilih memulai pengamanan dengan mendatangi para tokoh agama. Rabu (1/4).

Langkah itu dilakukan melalui kegiatan sambang ke sejumlah tokoh agama, termasuk ke Paroki St. Yohanes Padua Sasi, sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi dan memperkuat koordinasi menjelang rangkaian ibadah Kamis Putih, Jumat Agung, dan Paskah.

Pilihan pendekatan ini terasa penting di tengah kecenderungan pengamanan yang kerap dipahami sebatas penempatan personel, patroli, dan pengawasan wilayah.

Kapolres TTU,  AKBP Eliana Papote mengatakan, komunikasi dengan tokoh agama menjadi bagian penting dari upaya menjaga situasi kamtibmas agar tetap aman dan kondusif selama rangkaian Tri Hari Suci berlangsung.

“Kami percaya keamanan tidak bisa dibangun hanya dengan kehadiran aparat, tetapi juga melalui komunikasi dan kebersamaan dengan para tokoh agama. Kami datang untuk mendengar, berkoordinasi, dan memastikan seluruh rangkaian ibadah nantinya dapat berjalan aman, tertib, dan damai,” kata Kapolres.

Bagi umat Kristiani, Tri Hari Suci merupakan ruang refleksi yang sakral ketika umat memasuki suasana doa, penghayatan penderitaan Kristus, dan harapan kebangkitan. Karena itu, pengamanan pada momentum seperti ini menuntut lebih dari sekadar kewaspadaan tetapi juga memerlukan kepekaan.

“Pendekatan kepada tokoh agama adalah bagian dari cara kami membangun rasa aman yang lebih dekat dan lebih manusiawi. Kami ingin kehadiran Polri benar-benar dirasakan terutama pada saat umat menjalankan ibadah yang sakral,” tambah Kapolres.

Pendekatan semacam ini sekaligus memperlihatkan bagaimana slogan “NTT Penuh Kasih”, yang diinisiasi Kapolda NTT, Irjen. Pol. Dr. Rudi Darmoko, diterjemahkan dalam praktik pengamanan di lapangan.

Di TTU, semangat itu tidak berhenti pada slogan namun tampak dalam pilihan pendekatan yang lebih dialogis, preventif, dan menghargai struktur sosial masyarakat yang sangat dekat dengan agama, adat, dan relasi sosial.

Dalam masyarakat seperti ini, keamanan tidak cukup dijaga melalui prosedur formal semata melainkan harus dirawat melalui hubungan sosial yang sehat. 

Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa tugas kepolisian tidak selalu harus tampil dalam wajah yang tegas,  justru pendekatan yang tenang, santun, dan manusiawi lebih efektif dalam menjaga situasi tetap kondusif.(wm)**