Ketika Kehendak Manusia Belajar Taat dari Salib
Ketika kehendak tidak lagi dibimbing oleh kebenaran, maka kebebasan berubah menjadi ruang untuk menuruti diri sendiri. Manusia tidak disesatkan terutama oleh kurangnya pengetahuan, tetapi oleh kehendak yang kehilangan arah. Salib mengingatkan bahwa kebebasan sejati adalah keberanian untuk memilih yang benar.
OPINI PASKAH (Artikel)
Oleh: IPDA Wilco Mitang

Di tengah dunia yang makin bebas, manusia justru makin sulit menjawab satu pertanyaan mendasar: untuk apa kehendak itu dipakai?
Ada ironi besar dalam kehidupan manusia modern: kita hidup di zaman yang memberi begitu banyak pilihan, tetapi tidak selalu memberi kedalaman untuk memilih dengan benar.
Manusia hari ini diajar untuk menjadi dirinya sendiri, mengekspresikan keinginannya, memperjuangkan haknya, dan menolak segala bentuk tekanan yang dianggap membatasi kebebasan. Dalam banyak hal, itu adalah capaian peradaban yang penting. Namun di balik itu, ada persoalan yang jauh lebih sunyi dan sering luput untuk dibicarakan: manusia makin bebas, tetapi tidak selalu makin tahu ke mana kebebasan itu harus diarahkan.
Di sinilah persoalan kehendak menjadi sangat penting.
Sebab pada akhirnya, hidup manusia tidak terutama ditentukan oleh apa yang ia rasakan, atau bahkan apa yang ia pikirkan, melainkan oleh apa yang ia kehendaki. Pikiran bisa memberi pertimbangan. Perasaan bisa memberi dorongan. Tubuh bisa menyediakan sarana untuk bertindak. Tetapi kehendaklah yang akhirnya berkata “ya” atau “tidak”, “bertahan” atau “menyerah”, “mengampuni” atau “membalas”, “taat” atau “memberontak”.
Karena itu, krisis terdalam manusia hari ini bukan pertama-tama pada krisis ekonomi, politik, atau teknologi, melainkan krisis arah kehendak.
Kehendak adalah pusat keputusan hidup manusia. Di sanalah seseorang memutuskan: Apakah ia akan jujur atau berbohong; Apakah ia akan sabar atau meledak; Apakah ia akan setia atau berpaling; Apakah ia akan merendahkan diri atau tetap dikuasai gengsi.
Banyak tragedi hidup manusia sesungguhnya tidak dimulai dari tindakan besar, tetapi dari keputusan-keputusan kecil yang terus-menerus dibiarkan bergerak ke arah yang salah. Orang tidak tiba-tiba menjadi kasar; biasanya ia lebih dulu membiarkan amarah bertumbuh di dalam dirinya. Orang tidak tiba-tiba menjadi tidak setia; biasanya ia lebih dulu membiarkan kehendaknya menjauh dari komitmen yang pernah diikrarkan.
Ia tahu bahwa kebencian memperpanjang luka, tetapi tetap memeliharanya.
Ia tahu bahwa kejujuran lebih bernilai daripada keuntungan sesaat, tetapi tetap mencari jalan pintas.
Ia tahu bahwa pengampunan lebih menyembuhkan daripada pembalasan, tetapi tetap menyukai amarah.
Di sinilah letak rapuhnya manusia: bukan terutama pada kurangnya pengetahuan, tetapi pada kehendak yang tidak selalu tertata.
Setiap manusia hidup dalam ketegangan yang sama: antara apa yang ia tahu benar dan apa yang sesungguhnya ingin ia lakukan.
Tubuh sering menginginkan kenyamanan. Emosi cenderung memilih reaksi yang cepat. Ego selalu ingin dibenarkan; Sementara itu, hati kecil manusia sering kali tetap tahu mana yang lebih luhur, lebih adil, lebih benar, dan lebih manusiawi.
Namun, mengetahui yang benar tidak selalu berarti sanggup memilihnya.
Itulah sebabnya, persoalan terbesar hidup manusia bukan hanya soal pengetahuan moral, tetapi soal pembentukan kehendak. Sebab yang menentukan kualitas seseorang bukan hanya apa yang ia pahami, tetapi apakah ia cukup dewasa untuk menundukkan dirinya kepada apa yang benar.
Manusia tidak menjadi dewasa hanya karena ia memiliki banyak pilihan, tetapi karena ia belajar memilih dengan benar, bahkan ketika pilihan yang benar itu menuntut pengorbanan.

Di tengah permenungan menjelang Paskah, Salib sering kali hanya dibaca sebagai simbol penderitaan. Padahal, bila direnungkan lebih dalam, salib berbicara tentang sesuatu yang lebih mendasar: kehendak yang rela tunduk kepada kebenaran dan kasih, meski harus menanggung harga yang berat.
Yang membuat salib menjadi peristiwa yang begitu mengguncang bukan hanya karena ada tubuh yang menderita, tetapi karena ada keputusan batin untuk tidak lari dari apa yang benar, meskipun jalan itu penuh luka.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu pernah melihat dan mengenal bentuk-bentuk “salib” semacam itu: Ada orang yang memilih jujur meski rugi; Ada orang yang tetap setia meski tidak dihargai; Dan ada orang yang mau mengampuni meski hatinya masih terluka.
Dalam semua situasi itu, yang sedang diuji bukan hanya daya tahan tubuh atau keteguhan pikiran, melainkan arah kehendak.
Karena itu, salib sesungguhnya mengajarkan satu hal yang sangat penting: bahwa manusia tidak menjadi luhur karena ia tidak pernah bergumul, tetapi karena ia tetap memilih yang benar di tengah pergumulannya.
Orang yang mampu menahan diri, memikul tanggung jawab, tetap setia, dan memilih yang benar meski tidak mudah justru sedang memperlihatkan bentuk kebebasan yang lebih matang. Di sinilah ketaatan menemukan maknanya yang paling manusiawi; karena yang paling sulit disalibkan bukanlah luka hati, melainkan ego yang terus ingin dibenarkan, gengsi yang tidak mau direndahkan atau kehendak diri yang sulit tunduk pada yang benar.
Salah satu pelajaran paling penting menjelang Paskah adalah bahwa pembaruan manusia harus dimulai dari latihan yang sangat konkret dalam mendidik kehendak untuk berkata “tidak” pada apa yang merusak, dan “ya” pada apa yang membangun. Karena kebebasan sejati bukanlah melakukan semua yang diinginkan, melainkan memiliki keberanian untuk menghendaki yang benar.(wm)


