Menyisihkan Gaji Demi Masa Depan Anak Bangsa: Kisah Haru Seorang Bhabinkamtibmas Antarkan Seragam Sekolah ke Pelosok Desa Kiusili

Menyisihkan Gaji Demi Masa Depan Anak Bangsa: Kisah Haru Seorang Bhabinkamtibmas Antarkan Seragam Sekolah ke Pelosok Desa Kiusili

Tribratanewsttu.com, Miomaffo Timur (23/06/2026) – Menjadi seorang Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) bukan sekadar tentang menjaga keamanan wilayah hukum, melainkan tentang bagaimana menanamkan empati dan hadir sebagai solusi di tengah kesulitan warga. Prinsip hidup inilah yang dipegang teguh oleh Aipda I Ketut Sukenaya, seorang polisi humanis yang bertugas di Polsek Miomaffo Timur.

Aipda I Ketut bukanlah sosok asing bagi masyarakat setempat. Ia merupakan seorang abdi negara yang matang, di mana ia menyelesaikan pendidikan kelulusan lanjutannya pada tahun 2023. Rekam jejaknya di dunia kepolisian terbilang kokoh, terutama dalam mengemban amanah sebagai ujung tombak Polri di tingkat desa. Tercatat, ia telah mendedikasikan dirinya selama 4 tahun sebagai Bhabinkamtibmas. Pengalaman bertahun-tahun keluar-masuk kampung inilah yang mengasah kepekaan sosialnya, hingga melahirkan sebuah aksi nyata yang sangat menyentuh hati di Desa Kiusili.

Setiap hari bertugas di Desa Kiusili, Aipda I Ketut kerap melakukan sambang warga untuk mendengar keluh kesah masyarakat. Dalam perjalanannya, pandangan matanya tertuju pada kondisi kehidupan keluarga Emiliana Tahoni dan Vinsen Elu. Keluarga ini hidup dalam keterbatasan ekonomi yang cukup memprihatinkan. Saat melihat anak-anak di keluarga tersebut, hati kecil Aipda I Ketut tersentuh. Ada rasa simpatik dan kepedulian yang mendalam ketika menyadari bahwa untuk urusan pendidikan, anak-anak dari Emiliana dan Vinsen sangat membutuhkan uluran tangan, khususnya dalam hal fasilitas penunjang seperti pakaian sekolah.

Bergerak dari rasa iba yang berubah menjadi tekad, Aipda I Ketut tidak tinggal diam atau menunggu uluran tangan pihak lain. Ia memutuskan untuk bergerak menggunakan dana pribadi. Setiap bulan, dari gaji tetap yang diterimanya sebagai anggota Polri, ia sisihkan sebagian kecil secara konsisten. Rupiah demi rupiah dikumpulkan dengan satu tujuan mulia: membelikan seragam sekolah lengkap bagi anak-anak di keluarga tersebut agar mereka dapat bersekolah dengan layak dan percaya diri seperti anak-anak lainnya.

Setelah dana yang disisihkan dirasa cukup, Aipda I Ketut segera membeli seragam sekolah baru yang bersih dan lengkap. Proses penyaluran bantuan ini tidak dilakukan secara formalitas di kantor polisi, melainkan diantarkan langsung oleh ia sendiri menuju rumah tujuan di Desa Kiusili. Langkah ini diambil guna memastikan bantuan jatuh tepat sasaran, sekaligus untuk melihat langsung kondisi riil warganya.

Perjalanan penuh ketulusan ini bermuara di sebuah hunian yang sangat bersahaja. Rumah kediaman keluarga penerima bantuan tampak terbuat dari dinding belahan bambu (gedek) yang sudah menua, beratapkan seng sederhana, dan berdiri di atas fondasi tumpukan batu alam. Suasana di sekitar lokasi pun terlihat sedang diguyur hujan atau gerimis tipis, terlihat dari basahnya tanah dan bebatuan di halaman depan rumah, serta seekor ayam putih yang ikut berteduh di samping teras.

Meski kondisi cuaca kurang bersahabat, hal tersebut tidak menyurutkan semangat sang Bhabinkamtibmas. Menggunakan seragam dinas lengkap dengan atribut kepangkatannya, Aipda I Ketut Sukenaya berdiri langsung di depan pintu rumah bambu tersebut. Sambil menyunggingkan wajah penuh ketulusan, ia menyerahkan bungkusan plastik berisi seragam sekolah lengkap tersebut langsung ke tangan perwakilan keluarga seorang pria paruh baya mengenakan kaos hitam dan celana pendek yang menerima bantuan dengan raut wajah haru sekaligus bersyukur.

Saat bungkusan seragam itu berpindah tangan, suasana haru seketika menyelimuti teras rumah yang basah oleh sisa hujan. Aipda I Ketut menepuk pundak Vinsen Elu dengan lembut sembari menyampaikan pesan yang menyuntikkan semangat.

"Bapak Vinsen, ini ada sedikit berkat yang saya sisihkan dari gaji bulanan saya. Jangan dilihat dari nilainya, ya. Ini seragam sekolah lengkap untuk anak-anak. Saya ingin mereka tetap semangat belajar, tidak boleh minder, dan harus terus sekolah demi masa depan yang lebih baik," ujar Aipda I Ketut dengan nada suara yang bergetar penuh ketulusan.

Vinsen Elu, yang menerima langsung bantuan tersebut, sempat tertegun. Matanya berkaca-kaca menatap paket seragam baru di tangannya, lalu memandang sang Bhabinkamtibmas dengan tatapan tidak percaya sekaligus lega.

"Aduh, Bapak Polisi... kami tidak tahu harus balas pakai apa. Jujur, kami sedang bingung memikirkan bagaimana caranya beli seragam baru untuk anak-anak. Kebaikan Bapak ini betul-betul jawaban dari doa kami. Terima kasih banyak, Bapak Ketut. Semoga Tuhan yang membalas semua kebaikan hati Bapak," tutur Vinsen dengan suara parau menahan tangis bahagia.

Ungkapan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam juga mengalir dari Emiliana Tahoni. Baginya, kehadiran Aipda I Ketut bukan sekadar sebagai aparat keamanan, melainkan sudah seperti bagian dari keluarga mereka sendiri yang selalu peduli pada nasib masyarakat kecil di pelosok desa.

Di akhir pertemuan yang penuh kehangatan tersebut, keluarga Vinsen Elu dan Emiliana Tahoni menitipkan setangkup harapan besar untuk institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) ke depannya.

"Kami warga kecil di pelosok hanya bisa mendoakan agar seluruh anggota Polri selalu diberikan kesehatan dan perlindungan dalam bertugas. Harapan kami, semoga ke depan Polri semakin maju, semakin dicintai masyarakat, dan melahirkan lebih banyak lagi polisi-polisi jujur serta berhati mulia seperti Bapak Ketut. Kehadiran polisi seperti inilah yang membuat kami merasa aman, diayomi, dan benar-benar diperhatikan," pungkas Vinsen penuh harapan.

Aksi nyata yang dilakukan oleh Aipda I Ketut Sukenaya menjadi bukti nyata bahwa Polri tidak hanya hadir sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pelindung, pengayom, dan bapak asuh bagi masyarakat yang sedang kesulitan. Melalui sepasang seragam sekolah, harapan dan cita-cita anak-anak di Desa Kiusili kini kembali dirajut dengan optimisme baru.